Friday, December 16, 2011

Mungkin ini tulisan terakhirku..

Aku bodoh, bahkan bisa dibilang sangat bodoh
pernah terlintas dalam benakku untuk game over
karena, merasa tak sanggup hadapi hidup ini

Iblis-iblis terus saja merasuki dan membujukku untuk segera game over
Tapi ………..

Tapi, aku ingat sama mereka ( orang tuaku ).
Aku liat senyuman mereka saat ini.
Dan aku bayangkan apa yang akan terjadi pada senyum mereka ini
Jika suatu saat aku memang game over

Aku akui, kalau sekarang aku sangat lemah
Tak mampu hadapi polemic dalam diri
Selalu menghibur diri dengan tak pasti
Mencoba tetap tersenyum
Walau batin sangat tersiksa perih

Sebuah film berjudul ” 3 Idiots “
Ajarkan banyak pendidikan moral dan agama kepadaku
Untuk kuat, serta harus mampu hadapi ini
Dan pisau di tangan ini takkan mampu menyelesaikannya
Hanya akan membuat semakin kacau

Polemic membuat aku berniat negatif

Aku kini Lemah
Maafkan aku
bila aku sering bikin kalian tersakiti, terluka, dan jengkel oleh tingkahku
Dan mungkin ini tulisan terakhirku

Atas Nama Kenangan :)

Mungkin aku terlalu mengagungkan kehidupanku, ceritaku dan duniaku

Tanpa memberikan kesempatan untuknya berbagi sedikit cerita tentangnya..

Aku terlalu bermanja padanya

Tanpa menyadari bahwa sesungguhnya dia juga makhluk yang bermanja

Aku tidak kehilangannya, karena aku tidak pernah benar-benar memilikinya

Dia selalu ada di hatiku

Aku tempatkan dia di pojok ruang hatiku yang aman

Berharap dia nyaman atas nama kenangan….

Melahirkan: Antara Derita dan Qodrat Wanita

Wanita yang hamil tua itu bernama Elana. Berjalan terseok-seok menyusuri pematang sawah. Sebuah jirigen tua terlihat dijinjingnya. Sesekali airnya diteguk untuk mengurangi dahaga. Disekanya butir-butir keringat di dahinya. Terlihat kelelahan lahir bathin di wajahnya.

Sejak pagi tadi Elana berada di sawah bapaknya. Membantu mengusir burung-burung yang mencuri bulir-bulir padi yang kuning keemasan. Tali temali dan kaleng susu berisi batu adalah alat bantunya dalam bekerja. “Hush! Hush! Hwaaaa!” itulah mantera yang sering sekali dirafalnya.

Bila matahari sudah nyaris diatas kepala, Elana pun beranjak pulang ke rumah. Biasanya pada jam seperti itu, burung-burung pipit enggan turun ke sawah. Seperti manusia pada umumnya, burung-burung itupun memilih hanya bercengkrama dengan keluarga di dalam sarangnya.

Tiba-tiba Elana merasakan sesuatu mengalir dari sela-sela pahanya. Berjongkok ia untuk melihat benda cair yang sedang mengikuti gravitasi bumi. Cairan seperti air seni, agak kekuning-kuningan mengalir tanpa kendali. “Apakah ini tanda-tanda aku akan melahirkan?” Elana berpikir seorang diri sambil berbenah menuju rumah.

Diperiksanya semua perlengkapan melahirkan yang sudah lama dipersiapkannya. Tak lupa ia memastikan uang sebesar empat ratus ribu rupiah masih ada ditempatnya. Hanya itulah uang yang dimiliki Elana untuk menyambut kelahiran bayinya. Anak pertama yang tak pernah mengenal sentuhan dokter spesialis kebidanan, yang ada hanyalah bidan-bidan desa tempatnya bertanya bila ada keganjilan pada kandungannya.

Tak berapa lama bidan yang dipanggil bapaknya pun tiba. Ibu Ramyah, bidan tua yang masih terus berkarya mengabdikan dirinya untuk keselamatan wanita-wanita desa dalam melestarikan keturunan ummat manusia. Konon, kedua adik Elana pun lahir dengan bantuan tangan dinginnya.

“Masih bukaan dua! Kemungkinan nanti malam bayimu akan lahir, Elana!” Tutur Ibu Ramyah.

“Tapi, Bu! Cairan ini terus menerus keluar!” Elana memberitahu tanpa diminta.

“Tidak apa-apa, itu biasa terjadi mengawali sebuah kelahiran.” Jelas Ibu Ramyah.

Setelah bidan itu berlalu, Elana mulai menyapu, mengepel dan membersihkan piring-piring yang berserakan. Menurut pengalaman, itulah cara mempermudah proses persalinan. Elana merasakan nyeri yang luar biasa untuk selang waktu yang agak lama. Ditahankannya saja sakit tak terperi itu tanpa berkata-kata. Keringat bercucuran membasahi baju hamil yang dikenakannya.

Semakin malam jarak kontraksi semakin rapat. Elana menggeliat-geliat bagaikan ulat. Dibentangkannya sebuah tikar di tengah rumah. Berputar-putarlah ia menahankan rasa sakit tidak terkira. Tiang-tiang mesin jahit tua dipelintirnya seakan ia berusaha mengalirkan rasa sakit secara konduksi kepada benda tersebut. Namun rasa sakit semakin hebat, menggelinjang-gelinjang Elana dibuatnya.

Tak berapa lama bidan pun tiba. Elana masih berjuang menahan sakit tak terkata. Bu bidan heran karena tak ada tambahan bukaan di tempat seharusnya bayi dilahirkan. Segala ilmu sang bidan pun dikeluarkan. Elana lemas nyaris tak bertenaga. Segelas teh manis hangat tuntas dihirupnya. Dalam hatinya Elana terus berdoa, “ Ya, Allah! Mudahkanlah hamba melahirkan secara normal! Hindarkanlah hamba melahirkan melalui operasi Caesar!” Bukan Elana takut atau ngeri dengan pisau-pisau operasi. Ataupun ketakutan terjadinya kegagalan dalam operasi. Tapi, uang yang tersedia tak seberapa. Hanya cukup untuk biaya melahirkan normal saja.

Malam merangkak pasti menuju pagi. Hawa dingin menyelimuti perkampungan tanpa terkecuali. Dari corong-corong TOA mesjid dan mushollah terdengar azan subuh lantang menyapa. Elana mengejan sekuat tenaga. Bayi yang dinanti-nantipun lahir sudah. Tak ada lagi air ketuban tersisa. “Anakmu cewek! Mukanya jelek!” Bu Bidan memperlihatkan bayi yang sudah rapi itu kepada Elana. “Subhanallah, Salsabila! Itulah namanya, Bu!” Lirih suara Elana. Tak henti-henti diucapkannya Hamdalah setelah Bidan mengatakan bahwa anaknya lahir sempurna. Beberapa butir air bening mengalir di pipinya. Bercampur-campur rasa berkecamuk di dadanya.

Dipojok rumah, terlihat seorang lelaki menangis tersedu-sedu. Bukannya ia tidak bahagia karena kelahiran cucu. Tapi, nasib cucunya yang lahir ini sangat berbeda dengan cucu-cucu lain yang dimilikinya. Tak ada sosok ayah yang bangga akan kelahiran anaknya. Tak ada belaian mesra yang dirasakan anaknya usai persalinan. “Mestinya ayahmu ada disini, Cu! Mengumandangkan iqomat di telingamu.” Bisik Sang kakek lirih di telinga bayi merah Elana. “Allahu Akbar Allahu Akbar…” Iqomat menggema di seantero rumah. Air mata mengalir di setiap kelopak mata yang mendengarnya. Bayi Elana seperti mendengar nyanyian surga, terlelap ia setelah lelah berjam-jam berusaha mencari jalan keluar dari persemayaman lebih dari sembilan bulan.

Emak Elana berkali-kali mencoba menghubungi suami Elana. Sudah sejak tadi malam berita tentang penyambutan kelahiran ini ingin dikabarkan. Namun baru pagi ini terdengar tanda-tanda handphone di ujung sana diaktifkan.

“Assalamu’alaikum! Abdul Rachman, ini emak! Anakmu sudah lahir, perempuan!. Kau pulanglah segera!”

“Ya, Mak! Aku segera akan pulang!” Terdengar jawaban pendek. Tak terdengar nada bahagia dibalik suaranya. Tak ada pula pertanyaan lanjutan tentang kesehatan isteri dan anak-anaknya. Emak Elana menutup panggilan, karena sedotan pulsa untuk sambungan langsung internasional itu begitu mengerikan.

Di seberang lautan, Abdul Rachman tertegun sejenak. Terbayang di matanya akan wajah sendu milik Elana. Sudah lebih enam bulan mereka tak bersua. “Pasti Elana sangat membenciku. Aku suami yang tak tahu diri. Aku suami yang tidak bertanggung jawab, meninggalkan isteri selama masa kehamilan hingga proses melahirkan. Aku tak pernah memberinya nafkah lahir dan bathin. Aku benar-benar manusia tak berguna!” Abdul Rachman mengadili dirinya. Namun tak berselang lama, kembali ditariknya selimut sambil mendekap tubuh muda hangat yang tergolek disebelahnya. “Ah, persetan dengan semuanya!” Bisik hatinya seakan menghapus semua rasa berdosa.

*Cerita ini fiktif belaka. Mohon maaf bila ada persamaan nama dan peristiwa.

Surat Untuk Ibu

Untuk mencintai dan menyanyangi aku selalu
Alhamdullillah….
Bunda apa kabar mu disana? Baik-baik saja kan? Keluarga juga bagaimana? Bunda ananda yang dulu masih manja sekarang baik-baik saja, sehat lahir batin. Karena berkat doa bunda yang tiada henti-henti itulah, yang membuat ananda mu ini selalu dilindungi Allah SWT, dari sakit dan lelah yang selalu dihadapi.
Bunda sudah tiga bulan ya, ananda ini menjauh dari pangkuanmu yang hangat dan penuh kasih sayang. Tidak terasa sungguh tidak terasa. Rindu dihati selalu diselimuti wajah bunda, yang menanti ananda ini pulang. Tapi ananda berusaha mengalahkannya, karena itu akan menggangu konsentrasi belajar dan kuliah. Hanya satu helai pakaian bunda dan satu lembar foto yang dapat mengobati rasa rindu sayang ananda terhadap bunda. Dan itu juga pemberi motivasi pada ananda ini untuk sukses.
Bunda…… masak apa yang bunda hidangkan untuk ayah dan adik-adik hari ini? Mudah-mudahan masakkan kesukaan ananda ya… supaya bunda selalu merasakan kehadiran ananda. Walaupun ananda selalu merindukan kehadiran keluarga, masakan bunda yang baunya membuat selera makan ananda bangkit dan rasanya yang penuh kasih sayang. Sekarang ananda makan apa adanya, sambal pun enak. Karena ananda selalu membayangkan itu masakan bunda. Bunda…kalau ananda pulang masakan kesukaan ananda ya??
Terasa sayang yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Itu membuat ananda berusaha mendapatkan ilmu dan mengangkat keluarga kita. Alhamdulillah, bunda jangan berusaha payah membanting tulang bekerja untuk ananda disini, untuk membayar kuliah dan uang makan sehari-hari.
Ananda sekarang sudah mendapatkan beasiswa, walaupun pas-pasan, tapi cukuplah untuk ananda. Ananda juga dapat pekerjaan di Pontianak Post sebagai wartawan. Ini berkat bunda yang selalu memberikan ananda motivasi yang berupa omelan-omelan kecil yang selalu mengajarkan disiplin dan bertanggung jawab dengan apa yang dikerjakn diwaktu ananda masih dalam pangkuan bunda. Inilah berkah dan buah hasil didikkan bunda.
Sebelum ananda dipontianak post. Ananda di LPM Untan untuk mencari pengalaman, ya… beberapa bulan ananda sudah dapat bekerja di Pontianak Post. Gajinya pun lumayan untuk kehidupan ananda. Nanti separo dari gaji ananda akan dikirim untuk bunda dan separonya lagi ditabung untuk menaikan bunda haji. Itulah tujuan ananda dan hadiah yang tidak seberapa dibandingkan bunda yang selama ini merawat ananda diwaktu sakit dan mendidik ananda diwaktu tidak tahu apa- apa.
Bunda terima kasih ya, berkat doamu ananda jadi begini sekarang. Ananda pun tidak melupakan kewajiban sholat lima waktu.
Bunda surat yang ananda kirim ini sebagai perentara ananda berbicara. Ananda mungkin masih lama pulang kerumah. Jadi harapan anandan jaga selalu kesehatan bunda, jangan terlalu berat-berat kerjanyan. Ananda disini aman-aman saja. Jaga juga adik-adik ananda tersayang. Agar nanti bunda dan keluarga bisa melihat ananda memakai toga yang melambangkan ananda sudah S1 alias wusida.
Ya, sampai disini dulu surat ananda yang mungkin masih manja, pengen dipeluk selalu. Satu yang selalu ananda ucapkan AKU RINDU BUNDA. Dan ada secarit puisi buat bunda.
MOHON DOANYA
Ketika aku melangkah, terasa berat kakiku berjalan
Walaupun ada restumu, hatiku berkata “belum cukup”
Ayah ibu, aku belum siap untuk berjauh
Maafkan aku, jika tidak menoleh kebelakang
Sesak terasa dadaku , ketika aura kasihmu tidak lagi terasa
Semakin jauh…..
Semakin tak terasa air mengalir di pelupuk mata
Nadiku tidak tahu lagi kemana
Ayah ibu, aku mohon doamu
Restumu belum cukup bagiku
Aku berjuang demi dirimu dan keluarga
Aku tidak akan mensia-siakan waktu belajarku
Agar ilmuku berguna dikelak hari
Walau jauh aku merantau dinegeri orang
Bagiku engkau selalu ada disisiku
Karena doamu